Memuat berita

Malaysia Protes Kabut Asap Karhutla Kalimantan, Bawa Isu ke ASEAN

KUALA LUMPUR – Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan, Indonesia, kembali memicu kekhawatiran Malaysia. Pemerintah Malaysia berencana menyampaikan keberatan secara resmi kepada Indonesia serta membawa persoalan kabut asap lintas batas tersebut melalui mekanisme ASEAN. Langkah diplomatik itu diambil ketika kualitas udara di sejumlah wilayah Sarawak memburuk. Serian menjadi salah satu daerah yang paling terdampak. Pada Jumat (21/8/2026), indeks pencemaran udara (API) di wilayah tersebut sempat mencapai 242, yang masuk kategori sangat tidak sehat. Menteri Luar Negeri Malaysia Datuk Seri Mohamad Hasan mengatakan negaranya akan menggunakan jalur diplomatik ASEAN untuk mencari solusi atas persoalan kabut asap lintas batas yang kini berdampak pada sejumlah wilayah di kawasan.

Malaysia menilai ASEAN merupakan wadah yang tepat untuk menangani persoalan yang melibatkan negara-negara anggota. Pemerintah Malaysia juga berencana menyampaikan surat resmi kepada Sekretariat ASEAN terkait kondisi tersebut. Selain itu, Menteri Sumber Daya Alam dan Keberlanjutan Lingkungan Malaysia Arthur Joseph Kurup akan mengirimkan surat kepada mitranya di Indonesia. Langkah tersebut diharapkan dapat membuka komunikasi langsung antarkedua negara mengenai penanganan karhutla dan dampak asap yang menyeberangi batas wilayah.

Memburuknya kualitas udara di Sarawak menjadi salah satu alasan utama Malaysia mengambil langkah diplomatik. Data Sistem Pengelolaan Indeks Pencemaran Udara Malaysia (APIMS) menunjukkan Serian sempat mencatat API 241-242 pada Jumat pagi. Dalam klasifikasi kualitas udara Malaysia, angka 201-300 masuk kategori sangat tidak sehat, sementara angka 101-200 dikategorikan tidak sehat. Sejumlah wilayah Sarawak lainnya juga mencatat kualitas udara dalam kategori tidak sehat, termasuk Sri Aman, Kuching, Samarahan, Sarikei, Sibu, Bintulu, Samalaju, dan Kapit.

Kondisi tersebut disebut berkaitan dengan pergerakan asap lintas batas dari wilayah Kalimantan. ASEAN Specialised Meteorological Centre (ASMC) sebelumnya mendeteksi kepulan asap dengan intensitas sedang hingga pekat dari kelompok titik panas di Kalimantan Barat yang bergerak ke arah utara menuju wilayah barat dan tengah Sarawak. Data ASMC juga menunjukkan aktivitas titik panas di Kalimantan masih cukup tinggi. Pada periode 14-20 Agustus, tercatat ratusan hotspot di wilayah tersebut, dengan jumlah harian tertinggi mencapai 1.079 titik pada 18 Agustus.

Kabut asap lintas batas tidak hanya menjadi persoalan hubungan antarnegara, tetapi juga berdampak langsung terhadap kehidupan masyarakat. Memburuknya kualitas udara dapat meningkatkan risiko gangguan kesehatan, terutama bagi kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, serta masyarakat dengan gangguan pernapasan. Dampaknya juga mulai terasa pada sektor pendidikan. Saat kualitas udara memburuk di Sarawak, ratusan sekolah dilaporkan ditutup sebagai langkah pencegahan terhadap paparan kabut asap.

Pemerintah Malaysia sebelumnya juga telah meningkatkan pemantauan kualitas udara serta mengaktifkan langkah penanganan terkait kabut asap dan pembakaran terbuka. Persoalan ini bukan pertama kalinya kabut asap dari kebakaran di Indonesia menyeberang ke negara tetangga. Fenomena tersebut dikenal sebagai transboundary haze dan telah menjadi salah satu persoalan lingkungan yang berulang di kawasan Asia Tenggara.

Malaysia kini berharap persoalan tersebut dapat dibahas melalui jalur ASEAN sehingga penanganannya tidak berhenti pada komunikasi bilateral, tetapi menghasilkan koordinasi regional yang lebih efektif.

Di sisi lain, perkembangan diplomatik tersebut perlu dibedakan dari status protes resmi. Hingga Sabtu (22/8/2026), Wakil Ketua Komisi I DPR RI Dave Laksono mengatakan Indonesia belum menerima konfirmasi mengenai nota protes diplomatik resmi dari Malaysia maupun Singapura terkait karhutla dan kabut asap. Meski demikian, Malaysia telah menyatakan akan menggunakan saluran diplomatik ASEAN dan mengirimkan surat resmi kepada Sekretariat ASEAN serta pihak Indonesia. Artinya, langkah tersebut masih berada dalam proses diplomatik yang perlu ditindaklanjuti kedua negara.

Persoalan kabut asap pun kembali menguji kerja sama lingkungan di kawasan ASEAN. Bagi Malaysia, dampak karhutla di Kalimantan telah melewati persoalan domestik Indonesia karena asap turut memengaruhi kualitas udara dan aktivitas masyarakat di Sarawak. Sementara bagi Indonesia, penanganan karhutla di Kalimantan menjadi semakin mendesak, bukan hanya untuk melindungi lingkungan dan kesehatan masyarakat di dalam negeri, tetapi juga mencegah dampak lintas batas yang berpotensi memicu ketegangan dengan negara tetangga.

Tag

Memuat tag berita...