Memuat berita

Terpapar Asap Karhutla, Orangutan Sampurna di Ketapang Mati Usai Jalani Perawatan Intensif

04 September 2026
18

KETAPANG – Kabar duka datang dari upaya penyelamatan satwa liar di Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat. Seekor orangutan bernama Sampurna mati setelah sebelumnya ditemukan dalam kondisi sangat lemah dan mengalami gangguan pernapasan yang diduga berkaitan dengan paparan asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Sampurna sempat dievakuasi oleh tim Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Barat bersama Yayasan International Animal Rescue Indonesia (YIARI) pada 30 Agustus 2026. Satwa tersebut langsung mendapatkan penanganan medis intensif setelah ditemukan berdasarkan laporan masyarakat.

BKSDA Kalimantan Barat menyayangkan kematian orangutan tersebut. Kepala BKSDA Kalimantan Barat Murlan Dameria Pane mengatakan, tim telah berupaya memberikan pertolongan sejak menerima laporan mengenai kondisi Sampurna.

“Kami sangat menyayangkan Sampurna tidak dapat diselamatkan. Sejak menerima laporan dari masyarakat, tim BKSDA Kalimantan Barat bersama YIARI segera melakukan evakuasi dan memberikan penanganan medis sesuai dengan kondisi satwa,” ujar Murlan, Jumat (4/9/2026).

Menurut Murlan, pemeriksaan lebih lanjut juga dilakukan untuk mengetahui kondisi kesehatan Sampurna serta faktor-faktor yang diduga berkontribusi terhadap kematiannya. Sampurna ditemukan di Dusun Sempurna, Desa Kuala Satong, Kecamatan Matan Hilir Utara, Kabupaten Ketapang. Saat pertama kali ditemukan, kondisi orangutan tersebut sudah sangat memprihatinkan. Masyarakat melaporkan keberadaan Sampurna sekitar pukul 07.00 WIB. Orangutan tersebut terlihat sangat lemah dan mengalami gangguan pernapasan. Laporan warga kemudian segera ditindaklanjuti BKSDA Kalimantan Barat. Bersama tim YIARI, petugas bergerak melakukan evakuasi untuk menyelamatkan Sampurna.

Sesaat setelah ditemukan, Sampurna mendapatkan pertolongan pertama berupa terapi oksigen dan pemberian cairan intravena. Penanganan tersebut dilakukan untuk membantu menstabilkan kondisi tubuh satwa sebelum mendapatkan perawatan lebih lanjut. Sekitar pukul 11.30 WIB, Sampurna kemudian dibawa ke pusat rehabilitasi YIARI. Di lokasi tersebut, tim medis melanjutkan pemeriksaan dan memberikan penanganan intensif sesuai kondisi orangutan. Namun, kondisi Sampurna ternyata terus memburuk.

Sekitar pukul 14.00 WIB, tim medis mendapati pernapasan Sampurna semakin dangkal. Kondisinya mengalami penurunan drastis hingga saturasi oksigen tidak lagi terdeteksi. Setelah menunjukkan tanda-tanda henti napas, tim medis segera melakukan tindakan resusitasi jantung dan paru atau cardiopulmonary resuscitation (CPR). Upaya penyelamatan dilakukan untuk mengembalikan fungsi pernapasan dan sirkulasi tubuh Sampurna. Namun, setelah mendapatkan tindakan resusitasi, kondisi orangutan tersebut tidak kunjung membaik. Sampurna akhirnya dinyatakan mati sekitar pukul 15.20 WIB.

Kematian Sampurna menjadi perhatian karena orangutan merupakan salah satu satwa dilindungi yang keberadaannya menghadapi berbagai ancaman, mulai dari kehilangan habitat, konflik dengan manusia, hingga tekanan lingkungan. Dalam kasus Sampurna, tim masih melakukan pemeriksaan untuk mengetahui secara lebih mendalam kondisi kesehatan satwa tersebut dan faktor yang berkontribusi terhadap kematiannya.

Kondisi Sampurna juga menyoroti dampak kebakaran hutan dan lahan terhadap satwa liar. Asap pekat yang muncul akibat karhutla tidak hanya mengganggu aktivitas manusia, tetapi juga dapat memengaruhi satwa yang hidup di sekitar kawasan terdampak. Gangguan pernapasan menjadi salah satu kondisi yang perlu diwaspadai ketika satwa terpapar asap dalam waktu tertentu. Satwa yang sudah berada dalam kondisi lemah dapat menghadapi risiko yang lebih besar ketika kualitas udara memburuk. Upaya evakuasi menjadi penting ketika satwa liar ditemukan dalam kondisi kritis. Namun, proses penyelamatan tidak selalu berhasil, terutama apabila satwa sudah mengalami gangguan kesehatan yang berat. 

BKSDA Kalimantan Barat bersama YIARI masih melakukan pemeriksaan lebih lanjut untuk mengetahui kondisi kesehatan Sampurna sebelum mati serta faktor yang diduga berkontribusi terhadap kematiannya. Respons cepat masyarakat dalam melaporkan keberadaan satwa yang membutuhkan pertolongan juga dinilai penting. Laporan tersebut memungkinkan petugas konservasi segera melakukan evakuasi dan memberikan penanganan medis. Meski upaya penyelamatan terhadap Sampurna akhirnya tidak berhasil, proses evakuasi dan perawatan yang dilakukan menunjukkan pentingnya keterlibatan masyarakat dan lembaga konservasi dalam melindungi satwa liar yang terdampak bencana lingkungan.

Tag

Memuat tag berita...