Memuat berita

Lebih dari 3 Juta Warga Terpapar Kabut Asap Karhutla, Kasus ISPA Melonjak di Kalimantan

23 Agustus 2026
33

JAKARTA – Dampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla) terhadap kesehatan masyarakat semakin mengkhawatirkan. Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mencatat lebih dari tiga juta warga di 37 kabupaten/kota terpapar langsung kabut asap yang berasal dari karhutla di sejumlah provinsi. Paparan asap tersebut mulai diikuti peningkatan kasus gangguan kesehatan, terutama Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA). Kenaikan kasus paling terlihat di sejumlah wilayah Kalimantan yang menjadi salah satu kawasan dengan luasan kebakaran cukup besar.

Kemenkes mencatat 151 ribu kasus ISPA di Kalimantan Barat sejak Januari 2026. Lonjakan kasus terutama terjadi di tiga wilayah, yakni Kota Pontianak, Kabupaten Kubu Raya, dan Kabupaten Mempawah. Angka tersebut menjadi perhatian karena karhutla masih terjadi di sejumlah wilayah Kalimantan. Asap yang dihasilkan dari kebakaran dapat terbawa angin dan menyelimuti wilayah permukiman, sehingga meningkatkan risiko paparan terhadap masyarakat. Kondisi serupa terjadi di Kalimantan Tengah. Dalam kurun waktu hanya satu pekan, jumlah kasus ISPA di provinsi tersebut hampir meningkat dua kali lipat.

Kemenkes mencatat kasus ISPA di Kalimantan Tengah sebelumnya berada di angka 402 kasus. Dalam satu pekan, angka tersebut meningkat menjadi 716 kasus. Peningkatan kasus tidak hanya berupa ISPA. Kemenkes juga menerima laporan mengenai gangguan kesehatan lain yang berkaitan dengan paparan asap, seperti keluhan asma dan iritasi.

“Tren serupa, yang juga disertai kasus asma dan iritasi, turut dilaporkan di Riau dan Kalimantan Selatan. Meski demikian, belum ada laporan korban jiwa akibat bencana asap ini,” tulis Kemenkes dalam siaran pers, dikutip Sabtu (22/8/2026).

Mengantisipasi semakin luasnya dampak kesehatan akibat kabut asap, Kemenkes mulai memperkuat layanan kesehatan di daerah-daerah yang terdampak karhutla. Kepala Pusat Krisis Kesehatan Kemenkes, Agus Jamaludin, mengatakan pihaknya telah mengerahkan ratusan tenaga kesehatan untuk membantu masyarakat di wilayah terdampak.

“Kami telah memobilisasi 314 tenaga kesehatan yang terdiri dari dokter, perawat, bidan, dan epidemiolog dengan konsentrasi utama di Kalimantan Tengah dan Kalimantan Selatan,” kata Agus.

Para tenaga kesehatan tersebut ditugaskan untuk memperkuat pelayanan medis sekaligus membantu pemantauan kondisi kesehatan masyarakat. Keberadaan epidemiolog juga penting untuk memantau perkembangan penyakit yang berpotensi meningkat akibat kondisi lingkungan dan kualitas udara yang memburuk. Penanganan tidak hanya difokuskan pada masyarakat yang telah mengalami gejala gangguan pernapasan, tetapi juga pada upaya pencegahan agar paparan asap tidak menimbulkan dampak kesehatan yang lebih serius.

Kabut asap akibat karhutla dapat mengandung berbagai partikel dan polutan yang berbahaya apabila terhirup dalam jumlah tinggi. Paparan dalam jangka waktu tertentu dapat memicu iritasi pada mata dan saluran pernapasan hingga memperburuk kondisi orang yang sebelumnya memiliki gangguan pernapasan. Kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, ibu hamil, serta masyarakat dengan penyakit pernapasan perlu mendapat perhatian lebih ketika kualitas udara memburuk. Oleh karena itu, masyarakat di wilayah yang terdampak asap diimbau mengikuti perkembangan informasi kualitas udara dan mengurangi aktivitas di luar ruangan apabila kondisi tidak memungkinkan.

Penggunaan masker saat berada di luar ruangan juga dapat menjadi salah satu langkah perlindungan. Masyarakat yang mengalami keluhan seperti batuk, sesak napas, mata perih, atau iritasi akibat asap disarankan segera mendapatkan pemeriksaan di fasilitas pelayanan kesehatan.

Meski jumlah warga yang terpapar telah mencapai jutaan orang dan kasus ISPA mengalami peningkatan di sejumlah wilayah, Kemenkes memastikan belum ada laporan korban jiwa akibat bencana asap karhutla hingga laporan tersebut disampaikan. Namun, pemerintah tetap meningkatkan kewaspadaan karena kondisi karhutla masih berkembang di sejumlah daerah. Penanganan kesehatan perlu berjalan beriringan dengan upaya pemadaman dan pencegahan agar sumber asap dapat segera dikendalikan. Kondisi ini menunjukkan bahwa dampak karhutla tidak hanya menyangkut kerusakan lingkungan dan hilangnya tutupan lahan. Ketika asap menyebar hingga ke permukiman, masyarakat secara langsung menghadapi risiko kesehatan yang dapat membebani sistem pelayanan medis.

Dengan pengerahan 314 tenaga kesehatan dan pemantauan kasus secara berkelanjutan, Kemenkes berupaya memastikan masyarakat di wilayah terdampak tetap mendapatkan akses layanan kesehatan. Di sisi lain, pengendalian kebakaran di lapangan tetap menjadi langkah utama untuk menghentikan sumber paparan asap. 

Tag

Memuat tag berita...