CIANJUR — Musim kemarau yang melanda Kabupaten Cianjur mulai memicu krisis air bersih di sejumlah wilayah. Kondisi ini memaksa sebagian warga mengeluarkan biaya tambahan yang tidak sedikit hanya untuk memenuhi kebutuhan dasar sehari-hari, seperti mandi, mencuci, dan keperluan sanitasi (MCK). Salah seorang warga Kecamatan Cibeber, Taufik Winata (53), mengaku harus mengeluarkan hingga Rp900 ribu setiap bulan untuk membeli air bersih. Pengeluaran tersebut menjadi beban tambahan bagi keluarganya di tengah sulitnya mendapatkan sumber air yang layak.
"Air menjadi kebutuhan yang tidak bisa ditunda. Mau tidak mau kami harus membeli agar kebutuhan sehari-hari tetap terpenuhi," ungkapnya.
Namun, tingginya biaya pembelian air bersih ditambah belum adanya kepastian kapan musim kemarau akan berakhir membuat Taufik mengambil keputusan besar. Ia bersama keluarganya memilih pindah ke daerah lain yang memiliki akses terhadap sumber air bersih yang lebih memadai. Kondisi serupa juga dirasakan banyak warga lainnya di Desa Cimanggu, Kecamatan Cibeber. Kepala Desa Cimanggu, M. Rohman Budiman, mengatakan wilayahnya sudah hampir satu bulan tidak diguyur hujan, sehingga debit sejumlah sumber mata air terus menurun. Akibatnya, warga di beberapa dusun mulai mengalami kesulitan mendapatkan air bersih. Bahkan, sebagian di antaranya terpaksa memanfaatkan air sungai yang kondisinya keruh dan kurang layak untuk digunakan sebagai kebutuhan mandi, mencuci, dan buang air.
Situasi tersebut menimbulkan kekhawatiran, tidak hanya terkait pemenuhan kebutuhan sehari-hari, tetapi juga potensi munculnya berbagai penyakit akibat penggunaan air yang tidak higienis. Sementara itu, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Cianjur telah memetakan sejumlah wilayah yang berpotensi mengalami krisis air bersih selama musim kemarau berlangsung. Kepala Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan Bencana BPBD Kabupaten Cianjur, Taufik Zuhrizal, mengatakan pihaknya terus melakukan pemantauan terhadap daerah-daerah rawan kekeringan sebagai langkah antisipasi jika kondisi semakin memburuk.
Pemerintah daerah juga diharapkan dapat mempercepat langkah-langkah penanganan, seperti penyaluran bantuan air bersih, penyediaan tangki air, hingga pembangunan infrastruktur sumber air yang lebih berkelanjutan agar masyarakat tidak terus bergantung pada pasokan air berbayar. Fenomena ini menjadi gambaran nyata dampak musim kemarau terhadap kehidupan masyarakat. Di tengah perubahan pola cuaca yang semakin ekstrem, akses terhadap air bersih menjadi tantangan yang harus segera diatasi agar kebutuhan dasar warga tetap terpenuhi.

