Memuat berita

Gempa NTT Rusak 1.378 Satuan Pendidikan, 502 Sekolah Dilaporkan Rusak Berat

23 Agustus 2026
28

NTT – Gempa bumi yang mengguncang Nusa Tenggara Timur (NTT) berdampak besar terhadap sektor pendidikan. Sebanyak 1.378 satuan pendidikan dilaporkan terdampak, dengan 502 sekolah mengalami kerusakan berat. Data tersebut disampaikan Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Wamendikdasmen) Atip Latipulhayat dalam konferensi pers bersama Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Kamis (20/8/2026). Atip mengatakan kerusakan sektor pendidikan tersebar di tujuh kabupaten di NTT. Dampaknya tidak hanya menyangkut bangunan sekolah, tetapi juga mengganggu aktivitas belajar mengajar ribuan siswa serta tenaga pendidik.

“Di sektor pendidikan, gempa bumi berdampak terhadap 1.378 satuan pendidikan. Dengan 502 sekolah di antaranya dilaporkan rusak berat di 7 kabupaten yang meliputi 177.678 murid serta 21.166 guru dan tenaga kependidikan,” jelas Atip.

Kerusakan pada ratusan sekolah menjadi salah satu dampak serius gempa terhadap keberlangsungan pendidikan di NTT. Sekolah yang mengalami kerusakan berat membutuhkan penanganan lebih lanjut sebelum dapat kembali digunakan untuk kegiatan belajar mengajar. Kerusakan bangunan sekolah juga berpotensi membuat proses pembelajaran harus dilakukan dengan metode dan lokasi sementara. Kondisi tersebut menjadi tantangan tersendiri karena jumlah siswa dan tenaga pendidik yang terdampak mencapai ratusan ribu orang.

Berdasarkan data yang disampaikan pemerintah, sebanyak 177.678 murid terdampak akibat kerusakan fasilitas pendidikan tersebut. Sementara jumlah guru dan tenaga kependidikan yang terdampak mencapai 21.166 orang. Angka tersebut menunjukkan bahwa dampak gempa terhadap sektor pendidikan tidak sebatas kerusakan fisik bangunan. Aktivitas sekolah, proses pembelajaran, hingga mobilitas guru dan siswa ikut terdampak oleh situasi pascabencana.

Pemerintah melalui Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah bersama pemerintah daerah terus melakukan pendataan dan penanganan terhadap satuan pendidikan yang terdampak. Pendataan menjadi langkah penting untuk menentukan kebutuhan setiap sekolah, terutama sekolah yang mengalami kerusakan berat dan tidak memungkinkan digunakan dalam waktu dekat.

Penanganan juga perlu memperhatikan kondisi siswa dan tenaga pendidik yang terdampak secara langsung oleh bencana. Kelompok anak menjadi perhatian khusus karena selain kehilangan akses belajar yang normal, mereka juga menghadapi situasi psikologis setelah mengalami gempa dan harus berada di pengungsian. Pemerintah perlu memastikan proses belajar mengajar tetap dapat berlangsung selama masa pemulihan. Salah satu langkah yang dapat dilakukan adalah menyediakan ruang belajar sementara di lokasi yang aman sembari menunggu perbaikan maupun pembangunan kembali sekolah yang rusak.

Kerusakan fasilitas pendidikan menjadi salah satu pekerjaan besar dalam proses pemulihan pascagempa NTT. Sekolah bukan hanya berfungsi sebagai tempat belajar, tetapi juga menjadi ruang interaksi dan aktivitas sosial bagi masyarakat. Oleh Karena itu, pemulihan fasilitas pendidikan menjadi bagian penting dari penanganan bencana secara menyeluruh. Semakin cepat sekolah dapat kembali beroperasi, semakin cepat pula siswa dan guru dapat kembali menjalani aktivitas pendidikan secara normal.

Dengan 502 sekolah rusak berat dan lebih dari 177 ribu murid terdampak, pemerintah menghadapi tantangan besar untuk memulihkan sektor pendidikan di wilayah terdampak. Pemerintah bersama pemerintah daerah, BNPB, relawan, dan berbagai pihak diharapkan dapat mempercepat proses rehabilitasi serta menyediakan fasilitas pendidikan sementara agar anak-anak di wilayah terdampak tetap mendapatkan hak mereka untuk belajar.

Pemulihan pendidikan juga menjadi bagian dari upaya mengembalikan kehidupan masyarakat NTT setelah bencana. Di tengah proses evakuasi dan pemenuhan kebutuhan dasar, keberlanjutan pendidikan anak-anak tetap menjadi hal yang tidak boleh terabaikan.

Tag

Memuat tag berita...