Paulina diketahui tinggal seorang diri di Desa Nitunglea. Saat gempa terjadi, bangunan rumahnya ambruk dan membuat tubuhnya tertimbun material bangunan. Dalam kondisi serba terbatas, perempuan lanjut usia itu hanya bisa bertahan di tengah reruntuhan sambil menunggu pertolongan. Kisah perjuangan Paulina bertahan hidup kemudian dibagikan melalui akun Facebook Yati Kula. Dalam unggahan tersebut disebutkan, rumah Paulina berada di sekitar tempat tinggal tiga warga lanjut usia lainnya yang juga terdampak gempa.
Warga sekitar berupaya memastikan Paulina tetap mendapatkan asupan selama proses penyelamatan. Makanan dan minuman diberikan melalui celah-celah reruntuhan sehingga Paulina dapat bertahan selama berhari-hari sebelum akhirnya berhasil dievakuasi. Proses penyelamatan Paulina bukan perkara mudah. Desa Nitunglea sempat terisolasi akibat sejumlah akses menuju wilayah tersebut tertutup material longsor, batu-batu berukuran besar, serta pohon tumbang yang muncul setelah gempa.
Kondisi itu membuat kendaraan tidak dapat langsung mencapai desa. Petugas dan warga yang hendak memberikan bantuan harus menempuh perjalanan dengan berjalan kaki selama kurang lebih tiga jam dari dermaga menuju permukiman warga. Keterisolasian wilayah menjadi salah satu tantangan terbesar dalam penanganan dampak gempa di Pulau Palue. Selain harus menghadapi kerusakan bangunan, warga dan tim penyelamat juga berhadapan dengan medan yang sulit serta akses transportasi yang terputus.
Empat hari setelah gempa, tepatnya Selasa (18/8/2026), upaya penyelamatan akhirnya membuahkan hasil. Warga berhasil membongkar material yang menimpa rumah Paulina dan mengeluarkannya dari reruntuhan dalam kondisi lemah. Setelah berhasil dievakuasi, Paulina langsung mendapatkan penanganan medis. Kapolres Sikka AKBP Bambang Supeno mengatakan korban kemudian dibawa ke puskesmas terdekat untuk menjalani pemeriksaan dan mendapatkan perawatan.
Keselamatan Paulina menjadi secercah harapan di tengah situasi sulit yang dihadapi masyarakat Pulau Palue pascagempa. Warga di sejumlah wilayah terdampak masih membutuhkan bantuan, sementara akses menuju beberapa lokasi masih menghadapi kendala akibat kerusakan infrastruktur dan bencana susulan. Kisah nenek 84 tahun itu juga menunjukkan pentingnya solidaritas warga dalam situasi bencana. Selama empat hari terjebak, bantuan makanan dan minuman yang diberikan melalui celah reruntuhan menjadi salah satu faktor yang membantu Paulina bertahan hingga tim penyelamat berhasil mencapai lokasinya.
Kini, Paulina
telah berada di fasilitas kesehatan untuk mendapatkan penanganan lebih lanjut. Warga
dan petugas terus melakukan upaya penanganan serta pendataan terhadap
masyarakat terdampak gempa di wilayah tersebut.
Peristiwa ini sekaligus menjadi pengingat bahwa kelompok lanjut usia, penyandang disabilitas, dan warga yang tinggal seorang diri menjadi kelompok yang sangat rentan ketika bencana terjadi. Sistem evakuasi dan bantuan darurat perlu memastikan kelompok-kelompok tersebut tidak terlewat dalam proses pencarian dan penyelamatan.