Memuat berita

Delapan WNI Diduga Direkrut Jadi Tentara Rusia untuk Perang di Ukraina, Imigrasi Ungkap Modus Perekrutan

04 September 2026
20

JAKARTA – Sebanyak delapan warga negara Indonesia (WNI) diduga direkrut menjadi tentara Rusia dan kemudian dikirim untuk terlibat dalam perang di Ukraina. Informasi tersebut mendapat perhatian serius karena perekrutan diduga dilakukan dengan modus yang menyamarkan tujuan keberangkatan para WNI. Wakil Ketua DPR RI Sufmi Dasco Ahmad mengungkapkan, berdasarkan informasi intelijen Indonesia, proses perekrutan diduga dilakukan melalui negara pihak ketiga. Para calon pekerja disebut ditawari pekerjaan yang terlihat umum, seperti satuan pengamanan atau tenaga administrasi. Tawaran tersebut diduga menarik perhatian karena menjanjikan gaji yang cukup besar. Para WNI yang direkrut kemudian diduga diarahkan untuk bergabung dengan militer Rusia sebelum akhirnya dikirim ke wilayah konflik di Ukraina.

Informasi mengenai delapan WNI tersebut kini menjadi perhatian pemerintah. Aparat terkait perlu melakukan penelusuran untuk memastikan bagaimana proses perekrutan berlangsung, siapa pihak yang merekrut, serta bagaimana para WNI tersebut dapat berangkat hingga berada di Rusia. Modus perekrutan melalui pekerjaan sipil menjadi salah satu hal yang tengah disoroti. Tawaran pekerjaan sebagai petugas keamanan maupun tenaga administrasi dinilai dapat membuat calon pekerja tidak menyadari bahwa mereka berpotensi diarahkan ke lingkungan militer. Selain informasi dari intelijen, fakta lain terungkap dari penelusuran pihak Imigrasi Depok. Salah satu WNI yang diduga berkaitan dengan kasus tersebut diketahui sempat mengurus paspor untuk keperluan bepergian ke luar negeri.

Saat mengurus paspor, yang bersangkutan disebut mengaku hendak melakukan perjalanan wisata. Tidak terdapat indikasi yang ditunjukkan saat proses tersebut bahwa dirinya akan melakukan perjalanan ke Rusia, apalagi bergabung dengan militer negara tersebut. Keterangan tersebut memperlihatkan bagaimana tujuan keberangkatan diduga tidak disampaikan secara terbuka sejak awal. Pihak imigrasi sendiri memiliki kewenangan dalam pemeriksaan dokumen dan keimigrasian, namun informasi mengenai tujuan perjalanan seseorang pada saat mengurus paspor belum tentu menggambarkan perkembangan rencana perjalanan berikutnya. Oleh karena itu, penelusuran lebih lanjut diperlukan untuk mengetahui kapan dan bagaimana dugaan perekrutan tersebut terjadi, termasuk pihak yang menawarkan pekerjaan serta jalur keberangkatan yang digunakan.

Kasus dugaan perekrutan WNI menjadi tentara Rusia ini juga menunjukkan adanya potensi risiko bagi warga Indonesia yang menerima tawaran pekerjaan di luar negeri dengan iming-iming penghasilan tinggi. Pemerintah perlu memastikan apakah para WNI tersebut mengetahui konsekuensi dari pekerjaan yang ditawarkan kepada mereka. Terlebih, keterlibatan dalam konflik bersenjata di negara lain memiliki risiko keselamatan yang sangat tinggi. Selain aspek keselamatan, status hukum dan kewarganegaraan para WNI yang diduga terlibat juga menjadi hal yang perlu diperjelas. Pemerintah perlu melakukan verifikasi terhadap keberadaan mereka serta memastikan langkah perlindungan yang dapat diberikan apabila mereka benar-benar berada di wilayah konflik.

DPR turut mendorong agar informasi mengenai perekrutan tersebut ditelusuri secara serius. Koordinasi antara kementerian dan lembaga terkait diperlukan untuk mengungkap jaringan perekrutan dan mencegah semakin banyak WNI menjadi korban modus serupa. Masyarakat juga diimbau berhati-hati terhadap tawaran pekerjaan di luar negeri yang menjanjikan gaji besar tetapi tidak memberikan informasi jelas mengenai perusahaan, jenis pekerjaan, lokasi penempatan, maupun kontrak kerja. Terlebih jika proses perekrutan dilakukan melalui perantara atau negara ketiga dan calon pekerja diminta merahasiakan tujuan keberangkatan sebenarnya.

Hingga kini, dugaan keterlibatan delapan WNI dalam militer Rusia masih memerlukan pendalaman dan verifikasi dari pemerintah. Informasi mengenai identitas para WNI, mekanisme perekrutan, serta kondisi mereka di Rusia juga perlu dipastikan melalui jalur resmi. 

Tag

Memuat tag berita...