AMSTERDAM – Bank sentral Belanda, De Nederlandsche Bank (DNB), memindahkan sekitar 86 ton cadangan emas dari Amerika Utara ke London. Langkah tersebut dilakukan di tengah meningkatnya ketidakpastian geopolitik global. Perpindahan cadangan emas itu dilakukan secara bertahap. Namun, tidak seluruh emas dipindahkan secara fisik melintasi Samudera Atlantik. DNB menggunakan kombinasi antara transportasi fisik dan transaksi jual-beli untuk mengurangi risiko dalam proses relokasi. Dalam skema tersebut, sekitar 59 ton emas dijual di New York. Emas tersebut kemudian dibeli kembali di London dalam jumlah yang setara. Dengan mekanisme tersebut, DNB tidak perlu mengangkut seluruh cadangan emas dari Amerika Utara menuju London. Sebagian kepemilikan dapat dialihkan melalui transaksi di dua pusat perdagangan emas dunia.
“Menggabungkan proses pembelian
dan penjualan serta transportasi fisik telah memungkinkan DNB menyebarkan
risiko yang terkait dengan relokasi fisik emas yang sedemikian rumit,” kata
DNB.
DNB juga menyebut peningkatan ketidakpastian geopolitik sebagai salah satu latar belakang relokasi cadangan emas tersebut. Meski demikian, bank sentral Belanda tidak menjelaskan secara rinci apa yang dimaksud dengan “kerusuhan geopolitik”. Menurut DNB, penempatan emas di London memberikan keuntungan dari sisi likuiditas. London merupakan salah satu pusat perdagangan emas terbesar di dunia sehingga cadangan yang disimpan di sana dapat lebih cepat diperdagangkan apabila diperlukan dalam situasi krisis. Langkah tersebut menjadi bagian dari strategi DNB untuk memastikan cadangan emas dapat digunakan secara cepat dan fleksibel ketika menghadapi kondisi darurat.
Meski demikian, DNB menegaskan bahwa relokasi tersebut tidak berarti seluruh cadangan emas Belanda ditarik dari Amerika Utara. Sebagian cadangan masih tetap disimpan di sejumlah lokasi di kawasan tersebut. Berdasarkan data DNB, total stok emas Belanda mencapai 612,4 ton pada akhir 2025 dengan nilai sekitar 72,2 miliar euro. Setelah perpindahan tersebut, porsi emas DNB yang disimpan di London meningkat cukup signifikan. Sebelumnya, sekitar 18,1 persen cadangan emas berada di London. Setelah relokasi, porsinya meningkat menjadi 32,1 persen. Sementara itu, sekitar 30,8 persen cadangan emas Belanda masih disimpan di dalam negeri.
Perubahan lokasi penyimpanan tersebut menunjukkan upaya DNB melakukan diversifikasi sekaligus meningkatkan akses terhadap cadangan emas yang dapat diperdagangkan dengan cepat. Bagi bank sentral, lokasi penyimpanan emas bukan hanya menyangkut keamanan fisik. Kemampuan untuk mengakses, menjual, atau menggunakan emas dalam kondisi darurat juga menjadi pertimbangan penting. Dengan cadangan lebih dari 600 ton, pemindahan sekitar 86 ton emas merupakan langkah yang cukup signifikan dalam strategi pengelolaan aset Belanda. Keputusan DNB tersebut juga mencerminkan bagaimana bank sentral memandang emas sebagai aset strategis, terutama ketika ketidakpastian ekonomi dan geopolitik global meningkat.
Meski DNB tidak secara spesifik mengaitkan langkah tersebut dengan negara atau konflik tertentu, peningkatan porsi emas di London menunjukkan bahwa aspek likuiditas, diversifikasi, dan kesiapan menghadapi krisis menjadi pertimbangan utama. Kini, London menjadi salah satu lokasi utama penyimpanan cadangan emas Belanda. Sementara sebagian lainnya tetap berada di Belanda dan Amerika Utara. Langkah tersebut menambah perhatian terhadap strategi bank-bank sentral dalam mengelola cadangan emas di tengah dinamika ekonomi dan geopolitik dunia.