Kuala Lumpur – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia mulai berdampak hingga negara tetangga. Kabut asap dari sejumlah titik panas di wilayah Sumatra dan Kalimantan dilaporkan memengaruhi kualitas udara di beberapa kawasan Malaysia dan Singapura. Dampak kabut asap tersebut paling terasa di Sarawak, Malaysia. Pemerintah setempat bahkan mengambil langkah pencegahan dengan menutup sementara sejumlah sekolah setelah kualitas udara memburuk akibat kabut asap.
Mengutip pemberitaan Kantor Berita Nasional Malaysia, Bernama, Jabatan Pendidikan Negeri Sarawak (JPNS) memutuskan menutup seluruh sekolah di bawah kewenangannya yang berada di wilayah Kuching, Padawan, Serian, dan Samarahan. Penutupan sekolah berlangsung selama dua hari, yakni 20 dan 21 Agustus 2026. Kebijakan tersebut diambil sebagai langkah antisipasi untuk melindungi siswa maupun warga sekolah dari dampak paparan udara yang tidak sehat. Selama sekolah ditutup, pemerintah Sarawak tidak menghentikan kegiatan pendidikan. Proses belajar mengajar kembali dilakukan melalui Pembelajaran dan Pengajaran di Rumah (PdPR).
Kebijakan tersebut memungkinkan siswa tetap mengikuti kegiatan pembelajaran meskipun tidak datang langsung ke sekolah. Langkah ini sekaligus menjadi upaya pemerintah menjaga keberlangsungan pendidikan di tengah kondisi kualitas udara yang memburuk. JPNS juga menyatakan perkembangan mengenai masa penutupan sekolah maupun keputusan pembukaan kembali akan disampaikan melalui saluran resmi pemerintah.
“Keputusan
tersebut diambil sebagai langkah pencegahan untuk melindungi keselamatan,
kesehatan, dan kesejahteraan siswa serta warga sekolah, khususnya dari risiko
paparan udara yang tidak sehat,” kata JPNS dalam keterangan tertulis, seperti
dikutip Bernama pada Kamis (20/8/2026).
Kabut asap akibat karhutla bukan persoalan baru di kawasan Asia Tenggara. Ketika kebakaran terjadi dalam skala luas, asap dapat terbawa angin dan menyebar melintasi batas negara. Kondisi tersebut membuat kualitas udara di wilayah yang berada dekat dengan sumber kebakaran ikut terdampak. Malaysia dan Singapura menjadi negara yang kerap merasakan dampak kabut asap ketika terjadi kebakaran besar di Sumatra maupun Kalimantan.
Dalam kondisi terbaru ini, perhatian kembali tertuju pada aktivitas karhutla di Indonesia. Sejumlah titik panas terpantau di wilayah Sumatra dan Kalimantan, sementara dampaknya mulai dirasakan di negara-negara sekitar. Bagi masyarakat, memburuknya kualitas udara menjadi perhatian khusus, terutama bagi kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, serta mereka yang memiliki sensitivitas terhadap polusi udara.
Penutupan sekolah di sejumlah wilayah Sarawak menunjukkan bahwa dampak kabut asap tidak hanya berkaitan dengan lingkungan, tetapi juga dapat mengganggu aktivitas masyarakat, termasuk sektor pendidikan. Langkah pemerintah Sarawak menutup sekolah menjadi salah satu bentuk respons terhadap memburuknya kualitas udara. Kebijakan serupa dapat diterapkan apabila kondisi udara semakin tidak sehat dan berisiko bagi kesehatan masyarakat. Di sisi lain, penanganan sumber utama persoalan tetap berada pada pengendalian kebakaran di wilayah yang terdampak. Upaya pemadaman, pencegahan perluasan titik api, serta penegakan hukum terhadap pembakaran lahan menjadi penting untuk mencegah kabut asap semakin meluas.
Kondisi ini juga menjadi pengingat bahwa karhutla memiliki dampak lintas wilayah dan bahkan lintas negara. Kebakaran yang terjadi di satu kawasan dapat membawa konsekuensi terhadap masyarakat di wilayah lain ketika asap terbawa angin. Oleh Karena itu, penanganan karhutla membutuhkan koordinasi antara pemerintah pusat dan daerah, aparat penegak hukum, masyarakat, serta negara-negara tetangga yang turut terdampak.
Sementara itu, pemerintah Sarawak terus memantau perkembangan kualitas udara dan kondisi kabut asap. Keputusan terkait pembukaan kembali sekolah akan disesuaikan dengan situasi dan perkembangan terbaru demi memastikan keselamatan siswa serta seluruh warga sekolah.