Memuat berita

777 Siswa dan Guru SMAN 1 Lasem Diduga Keracunan Usai Santap MBG

04 September 2026
18

REMBANG – Sebanyak 777 siswa dan guru SMA Negeri 1 Lasem, Kabupaten Rembang, Jawa Tengah, diduga mengalami keracunan setelah menyantap menu Makan Bergizi Gratis (MBG). Setidaknya lima siswa dilaporkan harus menjalani perawatan setelah mengalami sejumlah keluhan kesehatan. Kejadian tersebut bermula setelah makanan MBG dibagikan kepada siswa dan guru pada Rabu (2/9/2026) sekitar pukul 12.00 WIB. Pembagian makanan bertepatan dengan jam istirahat sekolah. Pada hari itu, menu yang disajikan terdiri dari nasi, ayam bakar, tempe goreng, lalapan, dan potongan semangka. Setelah menyantap makanan tersebut, sejumlah siswa mulai mengalami gangguan pencernaan.

Kepala SMAN 1 Lasem, Juhartutik, mengatakan beberapa siswa sebenarnya sudah mengalami diare setelah pulang sekolah pada Rabu. Namun, keluhan tersebut tidak langsung dilaporkan kepada pihak sekolah. Situasi kemudian berubah ketika para siswa kembali mengikuti kegiatan belajar mengajar pada Kamis (3/9/2026). Jumlah siswa yang mengalami diare semakin banyak hingga membuat fasilitas toilet sekolah kewalahan.

“Setelah mereka masuk sekolah hari ini, baru pada ke belakang (toilet) bolak-balik, massal itu,” ujar Juhartutik, Kamis (3/9). Menurutnya, kondisi tersebut membuat puluhan toilet yang tersedia di sekolah tidak mampu menampung banyaknya siswa yang mengalami diare secara bersamaan.

SMAN 1 Lasem diketahui memiliki sekitar 30 toilet. Namun, karena jumlah siswa yang harus menggunakan toilet meningkat drastis, fasilitas tersebut tidak lagi mencukupi.

“Jadi pada pakai toilet guru dan toilet (di ruangan) saya juga tadi,” lanjut Juhartutik.

Pihak sekolah kemudian melakukan penanganan terhadap para siswa yang mengalami keluhan. Sebagian dibawa ke fasilitas kesehatan untuk mendapatkan pemeriksaan dan perawatan. Juhartutik mengatakan jumlah warga sekolah yang terdampak dugaan keracunan MBG mencapai lebih dari 750 orang, terdiri dari siswa dan guru. Mayoritas keluhan yang muncul berupa diare. Selain itu, terdapat pula siswa yang mengeluhkan pusing, demam, serta sakit atau mulas pada bagian perut.

“Tadi saya baru saja dari puskesmas, ada enam yang dirawat. Saya tanya ada yang masih pusing, demam, dan perutnya mulas. Diare juga masih ada,” tandasnya.

Jumlah pasien yang menjalani perawatan juga menjadi perhatian pihak sekolah. Berdasarkan informasi yang disampaikan, setidaknya lima siswa harus menjalani rawat inap, sementara sejumlah lainnya mendapatkan penanganan di fasilitas kesehatan. Selain mencatat banyaknya siswa dan guru yang mengalami keluhan, pihak sekolah juga menyoroti kondisi salah satu menu MBG yang dibagikan pada Rabu. Pihak sekolah menduga ayam bakar yang menjadi bagian dari menu tersebut sudah mengalami perubahan kondisi sebelum dikonsumsi. Ayam tersebut disebut diduga berlendir sehingga menimbulkan kecurigaan sebagai salah satu sumber masalah.

Meski demikian, dugaan tersebut masih perlu dibuktikan melalui pemeriksaan lebih lanjut. Tidak dapat dipastikan bahwa ayam bakar merupakan penyebab keracunan sebelum hasil pemeriksaan terhadap sampel makanan dan pemeriksaan medis terhadap para korban selesai dilakukan.

Pihak berwenang perlu melakukan penelusuran terhadap seluruh rangkaian proses penyediaan makanan, mulai dari bahan baku, pengolahan, penyimpanan, pengemasan hingga distribusi ke sekolah. Pemeriksaan juga penting dilakukan untuk memastikan apakah makanan telah memenuhi standar keamanan pangan sebelum diberikan kepada para penerima manfaat.

Kasus dugaan keracunan massal di SMAN 1 Lasem menjadi perhatian serius karena jumlah warga sekolah yang terdampak mencapai ratusan orang. Program MBG dirancang untuk membantu memenuhi kebutuhan gizi siswa. Namun, kualitas dan keamanan makanan menjadi faktor yang tidak kalah penting dalam pelaksanaannya. Dengan banyaknya siswa dan guru yang mengalami diare dalam waktu berdekatan setelah mengonsumsi makanan yang sama, investigasi menyeluruh diperlukan untuk memastikan penyebab kejadian. Pemeriksaan sampel makanan dapat menjadi salah satu langkah penting untuk mengetahui ada atau tidaknya kontaminasi. Selain itu, kondisi kesehatan para korban juga perlu terus dipantau untuk memastikan mereka mendapatkan penanganan yang tepat.

Pihak sekolah berharap persoalan tersebut dapat segera diketahui penyebabnya sehingga langkah pencegahan bisa dilakukan. Evaluasi terhadap proses penyediaan dan distribusi MBG juga diperlukan agar kejadian serupa tidak kembali terjadi. Kasus ini sekaligus menjadi pengingat bahwa pelaksanaan program makanan bergizi dalam skala besar membutuhkan pengawasan ketat, bukan hanya dari sisi kandungan gizi, tetapi juga kebersihan, keamanan, kualitas bahan makanan, hingga ketepatan proses distribusi. Hingga kini, kondisi para siswa dan guru yang mengalami keluhan terus menjadi perhatian. Sementara penyebab pasti dugaan keracunan masih menunggu hasil pemeriksaan dan penyelidikan pihak terkait.

Tag

Memuat tag berita...